Senin, 05 September 2011

Relawan untuk Dunia

Sampul buku "Relawan Dunia"

Sebetulnya saat pertama kali akan menulis tentang relawan, saya agak ragu dan bertanya-tanya. Mengapa dan apa pentingnya tulisan ini dibaca orang? Kegiatan saya dan mungkin teman-teman relawan dari Rumah Dunia (d.h Pustakaloka Rumah Dunia) adalah kisah pribadi yang juga mencari kepuasan pribadi. Bagi saya, awalnya tidak terpikir untuk menggapai cita-cita besar, seperti slogan Rumah Dunia: “mencerdaskan dan membentuk generasi baru.” Akan tetapi, mungkin kisah seperti ini—yang pribadi—bisa menyuarakan kepada para relawan apapun dan di mana pun, bahwa: kita tidak sendiri!
*              *              *
Sore itu langit sangat gelap dan hujan turun membasahi bumi. Di benak saya hanya terpikir, semoga motor vespa putih saya tidak mogok di jalan yang membelah pekuburan dan sawah ini. Sementara Endang Rukmana yang membonceng di belakang tidak bisa diandalkan urusan mesin.
“Lanjut ga nih, Ndang?” saya menoleh ke belakang sambil terus mewaspadai jalan berlubang yang mulai tertutup genangan air hujan.
“Tanggung. Terus aja,” Endang menjawab sambil menyeka air hujan di wajahnya. “Kayaknya sebentar lagi.” Di kanan-kiri kami pekuburan dan di depan kami sawah membentang, tidak ada tanda-tanda yang disebut Rumah Dunia. Endang memang tidak cocok menjadi peramal, pikir saya. Bagaimana dia bisa tahu Rumah Dunia yang kami tuju sebentar lagi, padahal dia sendiri sering hilang arah, gerutuk saya dalam hati.
Hujan menderas. Sementara, saya dan Endang nekad berbasah-basahan menerobos hujan deras untuk “mencari” Rumah Dunia. Selain karena belum tahu lokasinya, kami mencari” Rumah Dunia karena semangat muda kami yang meletup-letup, rasa penasaran, dan kehausan akan komunitas kepenulisan yang diasuh oleh penulis ternama itu. Kami memang belum tahu, apakah Rumah Dunia itu komunitas yang menyenangkan atau tidak. Namun, laiknya anak muda lain di Serang yang heboh kedatangan artis atau band musik dari Jakarta, seperti itu pula energi yang menggerakan kami “mencari” Rumah Dunia di kota Serang yang sepi dari komunitas-komunitas serupa.
Berbekal peta dari Toto ST Radik kami meraba-raba jalan ke Rumah Dunia. Sebelum bergabung dengan Rumah Dunia, setiap Minggu sore saya dan belasan teman dari berbagai sekolah di Serang belajar sastra dibawah binaan Toto ST Radik. Mas Toto, begitu biasa kami memanggilnya, mengasuh Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) yang didanai oleh Majalah Sastra Horison dan Ford Foundation. Memodifikasi istilah “Revolusi Berhenti di Hari Minggu”-nya Prof. Emil Salim, justru di SSSI kami memulai “revolusi di hari Minggu”. Revolusi ini berarti perubahan mendasar dalam diri kami melalui sastra yang memanusiakan dan memberbudayakan manusia. Nah, dari Mas Toto pula kami mengenal Gol A Gong (d.h Gola Gong) yang tengah merintis (Pustakaloka) Rumah Dunia.
Setelah hujan berangsur mereda dan kami bertanya kesana-kemari; ternyata belum banyak orang sekitar yang mengenal Pustakaloka Rumah Dunia… akhirnya kami sampai juga! Di pintu belakang rumah Gol  A Gong, kami diterima oleh Tias Tatanka. Gol A Gong masih dalam perjalanan pulang dari Jakarta, tutur Tias sambil melirik air hujan yang menetes dari ujung celana kami. Kami mengenalkan diri, mengutarakan maksud kedatangan, sambil menahan gemigil. Mungkin saat itu Tias keheranan melihat dua anak manusia basah kuyup yang kedinginan, mengetuk pintu rumahnya, dan membasahi teras rumahnya. Setelah saya menyerahkan buku novel sebagai syarat pendaftaran Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan pertama (untung tidak ikut kebasahan), kami pamit dan kembali menggelindingkan roda vespa tua saya.

Gerbang Rumah Dunia, Serang
Sepanjang jalan saya dan Endang tersenyum sambil berceloteh tentang perjalanan di tengah hujan yang agak heroik itu, hehe. Dalam benak kami saat itu, menjadi bagian Rumah Dunia akan mengakselerasi pencapaian dan membuka lebih banyak peluang. Belum terpikir untuk mencerdaskan dan membentuk generasi baru, karena di pikiran kami, mungkin, kami adalah generasi baru yang perlu dicerdaskan itu. Kelak kami baru menyadari bahwa Toto ST Radik dan Gol A Gong adalah kombinasi guru yang sangat inspiratif; Toto menusuk lembut, sementara Gong menggebrak keras. Dalam perjalanan pulang, angin dingin mengibas-ngibas baju kami yang basah kuyup, tapi senyum kami sangat lebar.
*              *              *
                Sebenarnya saat pertama kali datang ke Rumah Dunia, saya tidak berniat menjadi relawan, tetapi mendaftar sebagai peserta angkatan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia. Sebuah program yang sangat menarik. Bagaimana tidak? Selain mendapatkan pengetahuan tentang kepenulisan fiksi, non-fiksi, jurnalistik, dan skenario dari pelbagai ahli; kami pun selalu disuguhi aneka gogodoh (gorengan), seperti tahu isi, pisang goreng, bakwan, ubi goreng; juga minuman teh, kopi, bahkan kadang-kadang mie ayam; gratis pula!
Satu hal yang belum berubah dan sangat khas dari Rumah Dunia, sejak saya bergabung di Kelas Menulis hingga saat ini, adalah momen-momen perjalanan pulang dari Rumah Dunia. Seiring dengan langkah-langkah menjauhi Rumah Dunia, ada monolog yang menggelayut di benak saya: sudah menulis apa pekan ini? Sudah dimuat di mana tulisanmu? Apa pencapaianmu pekan ini? Beruntung saya menemukan Rumah Dunia, sebuah tempat dengan atmosfer penuh energi positif yang membuat saya terpacu berkarya lebih cepat dan seolah memiliki “utang” untuk terus berprogres.
Dipecut cambuk Rumah Dunia itu, saya dan Endang telah bersepakat untuk “berkejaran” dalam berkarya. Berawal dari saling memberikan informasi perihal lomba penulisan, lalu bersaing dalam lomba yang sama, kemudian bergantian merebut juara teratas. Kami juga bersaing menulis di koran lokal hingga pada medio 2004 memberanikan menerbitkan buku kumpulan artikel: Dari Donat Sampai Presiden. Berikut penuturan Firman Venayaksa tentang kami:

Sebentar lagi Aad (Adkhilni) dan Endang akan meluncurkan buku mereka berupa esai-esai yang pernah dimuat di koran lokal. Berbahagialah mereka, soalnya tak semua siswa SMU bisa berbuat seperti mereka. Saya dan Ibnu (Ibnu Adam Avicienna)—meminjam motor Golagong—pergi ke rumah mereka. Pertama kami pergi ke rumah Aad. Di tempatnya, buku-buku menjadi pajangan yang cukup menarik, berderet-deret, banyak sekali. Rupanya budaya literat sudah menjalar dalam keluarganya. Lantas kami berdiskusi selama satu jam. Dari lontaran pemikirannya, suatu saat Aad akan menjadi pegawai negeri. Saya tahu itu (karena tak ada lagi yang harus ia pilih). Ketika kami menuju rumah Endang, sangat berbeda. Endang bukan berasal dari keluarga literat, bukan dari keluarga mampu. Namun gejolak jiwanya yang akan membuktikan bahwa ia mampu mengubah kehidupannya hari ini. Endang punya dua pilihan: pertama, ia akan menjadi orang terkenal. Kedua, ia akan menjadi orang gila. Sedangkan alternatif dari dua pilihan itu adalah ia bisa menjadi orang terkenal karena kegilaannya! Kita lihat nanti. (Firman Venayaksa “Banten Terjangkit Virus Sastra”)

Bersekolah, menulis, dan menjadi relawan, kami lakukan bersamaan dan mengalir begitu saja. Saya masih ingat, pada suatu sore, saat proses Kelas Menulis angkatan pertama menggelinding, Gol A Gong mengumpulkan kami dan memberitahu, “kalian angkatan pertama ini adalah pilot project...” ujar Gol A Gong sambil mencomot tahu isi dan menguyahnya cepat-cepat. Wuih. Istilahnya keren sekali, pikir saya saat itu.
“Dan kalian jangan hanya sebagai penikmat saja, tapi kalian harus menjadi bagian dari orang yang membuat kue di Rumah Dunia ini...” lanjut Gol A Gong, sementara mulutnya masih penuh menguyah gorengan yang berminyak. “...yaitu dengan menjadi volunteer.”
Saya bengong. Pisang goreng yang saya comot itu terhenti di depan mulut saya. Apa itu volunteer? Saya yang masih berseragam putih abu-abu baru kali itu mendengar kata volunteer. Bagi saya kata volunteer terdengar keren, seperti kata avonturir yang banyak saya temukan di novel Balada Si Roy. Akan tetapi, mungkin karena terdengar terlalu asing dan banyak relawan diterjunkan untuk menolong korban tsunami di Aceh, istilah volunteer Rumah Dunia lambat laun berganti menjadi relawan.
         Tidak terasa Rumah Dunia sudah menjadi bagian dari akhir pekan saya selama beberapa tahun terakhir ini. Dibandingkan dengan relawan lainnya yang “nyantri” dan menjadi “kuncen” di “pesantren” Rumah Dunia, saya hanya “relawan part-time”. Part-time karena saya masih bersekolah di SMAN 1 Serang, sementara saat sore hari saya juga mengelola SMP Terbuka di dekat tempat saya tinggal. Jadi praktis waktu untuk Rumah Dunia hanya saat akhir pekan atau persiapan acara saja, seperti menyetting lokasi Rumah Dunia untuk acara tertentu, menjadi seksi sibuk, dan kembali merapikan lokasi setelah acara selesai.
            Pernah suatu ketika, pada saat saya ditunjuk menjadi Sekretaris “Gonjlengan Wacana” Klab Diskusi Rumah Dunia, interaksi saya dengan Rumah Dunia semakin intens. Saya lebih sering bulak-balik ke Ciloang dan membagikan surat undangan Klab Diskusi kepada para pembicara dan peserta. Adalah Mahdi Duri, sebagai Ketua Klab Diskusi, yang mengenalkan dan menemani saya berkeliling kota Serang untuk mengundang para pembicara dan menyebarkan pamflet di sana-sini. Karena kesibukannya di Tangerang, maka waktu untuk mengurusi Klab Diskusi pun menjadi sangat terbatas, sehingga kadang kami mengurusi Klab Diskusi di saat jam istirahat sekolah saya. Ketika itu pun, Rumah Dunia belum memiliki “motor dinas”, sehingga sering kali kami harus merogoh kocek sendiri untuk meminyaki mesin Klab Diskusi. Kembali vespa putih kesayangan saya menjadi andalan. Gelinding roda kecilnya membawa saya dan Mahdi untuk mengenalkan Rumah Dunia ke khalayak dan mengundang orang datang ke “Gonjlengan Wacana” Klab Diskusi Rumah Dunia. Baru saya sadari sekarang, pengalaman saya mengurusi Klab Diskusi ini sangat membekali saya dalam mengelola kepanitiaan dan organisasi yang lebih besar.
*              *              *
                Seiring dengan waktu, Rumah Dunia mulai melakukan ekspansi: pembebasan lahan, penyebaran virus literasi, perluasan anggota, hingga para tokoh masyarakat, pendidikan, dan politik merapat ke Rumah Dunia. Jika menyelenggarakan acara, Rumah Dunia selalu sesak dihadiri orang dari berbagai daerah hingga di luar Banten. Hampir bisa dipastikan, ketika para hadirin berkenalan dengan para relawan, beberapa dari mereka menyampaikan kekagumannya pada Rumah Dunia. “Kalian sangat beruntung berada di Rumah Dunia,” tutur salah seorang tamu dari Jakarta. “Rumah Dunia adalah gudang harta karun!” imbuh tamu lainnya.
                Ketika itu, saya yang masih berseragam putih abu-abu, heran dengan respon luar biasa para tamu dari Jakarta itu. Saya dan beberapa relawan lainnya, tidak melihat Rumah Dunia seistimewa para tamu itu. Kelak, saat saya berada di luar Rumah Dunia, saya baru paham dengan respon para tamu yang menurut kami berlebihan itu.
Saya pun melanjutkan kuliah ke Univ. Gadjah Mada; sekaligus “ditugaskan” sebagai Ambassador Rumah Dunia di Yogyakarta. Saya menerima “credential letter” dari Presiden RD, saat itu masih Gol A Gong, untuk mengenalkan Rumah Dunia, berbagi semangat, dan menyerap manfaat dari komunitas-komunitas serupa di Yogya dan sekitarnya. Layaknya Duta Besar sungguhan, secara periodik saya sering dimintai laporan dalam bentuk tulisan dan “dipanggil” untuk menyampaikan paparan tentang “wilayah akreditasi”, seperti pada saat Pesta Anak Rumah Dunia 2007.


Gerbang Universitas Gadjah Mada
                Sebelum menjadi Ambassador, pada Januari 2004 saya juga berkesempatan untuk mengenalkan RD dan SSSI kepada para penulis di Victoria-Australia. Ke sana saya membawa Jurnal Rumah Dunia, Jurnal Sastra Ketika (SSSI), buku Dari Donat Sampai Presiden, dan kumpulan cerpen Kacamata Sidik, serta berdiskusi dengan beberapa penulis Negeri Kanguru tentang gerakan literasi di masing-masing daerah.
                Saat menjadi Ambassador Rumah Dunia di Yogya, akhirnya saya paham maksud para tamu yang memuji-muji Rumah Dunia itu. Jelas saja para relawan tidak bisa melihatnya. Karena yang sedang dibicarakan para tamu itu adalah air dan para relawan adalah ikan yang hidup dalam kolam itu. Tentu saja para relawan tidak bisa melihat dengan jelas dan merasakan sejuknya air yang dicari banyak orang kecuali mereka keluar dari dalam kolam itu.
*              *              *
                Menjadi relawan adalah sebuah proses. Saya merasa tidak yang spesial menjadi siswa SMA sekaligus relawan Rumah Dunia. Saya menjalani tugas-tugas kerelawanan seperti juga teman-teman lain berkegiatan. Akan tetapi, justru hari-demi-hari yang saya lalui sesungguhnya adalah proses pematangan jiwa kerelawanan (voluntarism) dalam pribadi saya.
Ketika gempa melanda Yogya pada 2006, secara naluriah saya terpanggil untuk membantu menandu korban-korban gempa untuk mendapatkan perawatan medis di RSUP Sardjito yang sudah sesak oleh korban gempa dari berbagai penjuru Yogya itu. Bahkan saking sulitnya mencari tempat untuk membaringkan korban di RS tersebut, suatu ketika, saya dan beberapa rekan relawan gempa baru menyadari korban yang kami tandu itu sudah terbujur kaku meninggal dunia.


Gempa Yogya 2006
Pun juga dengan peristiwa Revolusi 25 Januari 2011 di Mesir. Kala itu saya sedang bertugas (short posting) di KBRI Cairo sebagai diplomat muda lulusan Sekolah Dinas Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri. Gelombang demonstrasi menuntut Presiden Mubarak untuk mundur semakin berlarut-larut dan sudah merengut korban puluhan jiwa. Walau tidak ada kewajiban, saya memutuskan untuk menginap di KBRI tanggal 31 Januari malam itu dengan tujuan membantu piket jaga malam di tengah kondisi yang tidak menentu. Ternyata benar firasat saya. Perintah evakuasi turun dari Jakarta pada 31 Januari siang. “Untung saya sudah siap dengan peralatan tempur untuk malam,” pikir saya. Malam itu kondisi semakin rumit. Jakarta ternyata memerintahkan evakuasi dalam 24 jam dan pesawat evakusai sedang dalam perjalanan menuju Mesir. Duta Besar mengerahkan staf yang tersisa malam itu sepenuhnya. Saya bertanggung jawab menangani pendataan empat ratusan WNI evakuasi tahap pertama sambil menjawab telepon dari Indonesia yang menanyakan kondisi keluarganya di Mesir sepanjang malam.
Ternyata tidak berhenti di situ. Pada tengah malam, Pak Dubes pun memerintahkan saya dan seorang kawan untuk mengawal evakuasi tahap pertama ini hingga tiba di Jakarta.
“Kondisi di Bandara Kairo dan di dalam pesawat serba tidak menentu. Harus ada orang KBRI yang bisa menjelaskan dan menenangkan ratusan WNI kita di sana,” kata Pak Dubes A.M. Fachir membuka pembicaraan.
“Kamu...” Pak Dubes menunjuk saya, “saya perintahkan untuk mengawal evakuasi tahap pertama ini hingga ke Jakarta supaya berjalan sesuai rencana. Siap?!”
“Siap, Pak!” jawab saya pendek.
“Selepas Subuh, kamu pulang dan segera packing. Untuk penjelasan lebih teknis, segera temui Bapak Atase Pertahanan”
“Siap, Pak!” Kami berjabat tangan dan saya pamit mohon izin.
  
WNI yang dievakuasi dari Kairo


*              *              *
                Pengalaman saya tentu belum banyak, tetapi dari pengalaman saya yang masih sangat minim ini, saya belajar sesuatu: menjadi relawan syaratnya hanya satu, yakni ikhlas. Tidak dibayar dan jangan mengharapkan imbalan, karena Tuhan Yang Maha Teliti tidak akan salah menghitung.
Takdir menuntun saya menjadi “relawan” di berbagai tempat. Saya yakin dan percaya, pengalaman saya menjadi relawan gempa Yogya, “relawan” evakuasi WNI dari Kairo, dan pengalaman-pengalaman lainnya berakar kuat dari jiwa kerelawanan (voluntarism) yang ditempa sejak di Rumah Dunia. Tidak pernah terpikir sedikit pun sebelumnya bahwa Yogya akan gempa dan Mesir akan bergejolak. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa kerelawanan, yang terpanggil untuk bergerak membantu melampaui kepentingannya sendiri.
        Rumah Dunia adalah rumah untuk mengerti dunia. Di Rumah Dunia pula sejatinya para relawan dipersiapkan dan mempersiapkan diri menjadi relawan sejati, bukan hanya untuk Rumah Dunia, tetapi juga menjadi relawan untuk Dunia. Saya percaya, langkah-langkah ikhlas para relawan Rumah Dunia akan menggelindingkan bola salju peradaban menjadi sebuah langkah besar peradaban Dunia.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar