RESENSI BUKU
Judul
|
:
| Life Stories Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang |
Penulis buku
|
:
|
Dr. Dino Patti Djalal
|
Penerbit
|
:
|
Red and White Publishing
|
Bahasa
|
:
|
Indonesia
|
Jumlah halaman
|
:
|
369 halaman
|
Tahun penerbitan
|
:
|
2012
|
Pembuat resensi
|
:
|
AM. Sidqi
|
![]() |
Sampul buku Life Stories Resensi buku ini dimuat juga di Jurnal Diplomasi vol. 2012, terbitan Pusdiklat Kementerian Luar Negeri |
Diaspora adalah sebuah kata yang kurang lazim kita dengar. Kamus
Besar Bahasa Indonesia mengartikan "diaspora" sebagai “masa
tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan
bangsa tersebut tidak memiliki negara, misal bangsa Yahudi sebelum negara
Israel berdiri pada tahun 1948.” Pada konteks ini, diaspora Indonesia dapat
diartikan sebagai orang yang berdarah Indonesia atau merasa sebagai orang
Indonesia dimanapun mereka berada, tanpa melihat status kewarganegaraannya. Namun,
setelah penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia 6—8 Juli 2012 di Los Angeles,
kata diaspora ibarat mantra sakti yang diulang-ulang untuk menggambarkan suatu
petulangan yang lekat dengan kesuksesan.
Sudah menjadi kelaziman bahwa pendatang cenderung lebih sukses
daripada warga setempat. Pendatang merantau dari daerah asalnya dengan
mengorbankan banyak hal dan tidak memiliki pilihan untuk bertahan hidup, selain
menjadi orang sukses; begitu pun diaspora Indonesia. Berbicara dalam banyak
bahasa, komunitas ini lebih terpapar oleh dunia luar dan cenderung berpikiran
terbuka (open minded), risk taker, terbiasa berkompetisi, dan
tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup di negeri orang, selain meraih
kesuksesan.
Mengutip pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan
Kongres Diaspora Indonesia, selama berabad-abad, bangsa Indonesia telah dikenal
luas sebagai pelaut dan petualang yang hebat. Dengan menggunakan perahu
bercadik dan berbekal keberanian, para nenek moyang bangsa Indonesia menerjang
ombak, mengarungi samudera, dan singgah di kota-kota penting dunia, mulai dari
Australia, Kepulauan Pasifik barat daya, Madagaskar, Kaledonia Baru, Afrika
Selatan, hingga Belanda dan Suriname. Para nenek moyang sang pelaut ini
merupakan gelombang pertama diaspora Indonesia.
Kini pada abad ke-21, diaspora Indonesia tidak hanya sekedar
petualang tetapi telah menjadi suatu komunitas besar yang dinamis yang pernuh
dengan potensi dan sumber daya. Diaspora Indonesia kini tersebar di berbagai
penjuru dunia. Diaspora Indonesia juga mewarnai beragam profesi dan aktivitas
mulai dari tenaga kerja berketerampilan tinggi, pekerja di sektor informal,
politisi, budayawan, wirausahawan, pendidik, inovator, kontraktor, ahli minyak
dan gas, awak kapal, olahragawan, mahasiswa, rohaniwan dan masih banyak
lagi.
Pada Kongres Diaspora Indonesia juga, Dubes Dino Patti Djalal menyampaikan
suatu fakta yang mengejutkan bahwa jumlah diaspora Indonesia lebih banyak dari
yang kita pikirkan. Bukan hanya 3.5 juta orang, tetapi lebih dari 6—8 juta
bahkan hampir mungkin lebih dari 10 juta orang Indonesia berdiaspora. Jumlah
ini hampir sama dengan jumlah penduduk Swedia atau Austria. Bahkan jumlah
diaspora Indonesia di seluruh dunia lebih besar dibandingkan dengan diaspora
Korea atau Vietnam. Jumlah terbanyak diaspora Indonesia diduga berada di
Belanda, Singapura, Australia, Malaysia, Madagaskar, Suriname, Afrika Selatan,
Mesir, Saudi, dan negara-negara Arab lainnya.
Diary diaspora Indonesia
Tidak lama setelah terselenggaranya Kongres Diaspora Indonesia,
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dr. Dino Patti Djalal, selaku editor meluncurkan
buku “Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri
Orang” pada 18 Juli 2012 di Jakarta. Buku diaspora Indonesia pertama yang disusun
dalam waktu empat bulan ini merupakan bagian dari tindak lanjut pelaksanaan
Kongres Diaspora Indonesia pertama dan akan terbit edisi kedua dari buku ini.
![]() |
Dino Patti Djalal saat peluncuran buku Life Stories, Jakarta, 18 Juli 2012 |
Buku Life Stories ini berisi kumpulan kisah inspiratif dari
diaspora Indonesia yang pernah belajar atau bekerja di AS, baik yang masih
berstatus WNI maupun yang telah menjadi warga AS. Buku ini menggambarkan nilai-nilai dan etos
hidup dari para tokoh yang menuliskan kisahnya selama di perantauan, yang
menjadikan mereka menjadi tegar dan unggul. Para penulis di buku tersebut
adalah tokoh-tokoh diaspora Indonesia yang sudah kembali ke Tanah Air maupun
tinggal di negeri orang, tetapi mencetak prestasi dan perubahan.
Sebanyak 28 orang Indonesia menyumbangkan tulisan dan kisah mereka
di dalam buku terbitan Red and White Publishing tersebut. Nampak jelas
bahwa pemilihan sejumlah figur untuk menulis di dalam buku ini didasarkan pada
ikon dibidangnya masing-masing, sebagai berikut Armida Alisjahbana, Bambang
Sunarno, Din Syamsuddin, Dino Patti Djalal, Eduardus Halim, Edward Wanandi,
Emil Salim, (alm) Endang Rahayu Sedyaningsih, Fify Manan, Gita Wirjawan, Hasan
Wirajuda, Hasyim Djalal, Herry Utomo, Mari Elka Pangestu, Kuntoro
Mangkusubroto, Liquica Anggraini, Makarim Wibisono, Nial Djuliarso, Peter
Gontha, Rif Wiguna, Sandiaga Uno, Sehat Sutardja, Shamsi Ali, Sri Mulyani
Indrawati, Sudhamek, Sumarsam, Todung Mulya Lubis, dan Zulkifli Zaini.
Bukan hanya dari kalangan public figure yang telah dikenal
luas, buku ini juga berusaha menampilkan tokoh-tokoh dispora berprestasi
lainnya yang belum terlalu luas dikenal di Tanah Air. Buku setebal 369 halaman
ini menampilkan kisah perjuangan tokoh-tokoh terkenal seperti Din Syamsudin,
Emil Salim, Hassan Wirajuda, Kuntoro Mangkusubroto, dan Sri Mulyani. Pada saat
yang bersamaan, buku ini juga memuat kisah-kisah diaspora, seperti chef
Bambang Sunarno, Eduardus Halim, Liquica Anggraini, Nial Djuliarso, dan Shamsi
Ali.
Dari rentetan nama para penulisnya, buku ini jelas terlihat
berupaya untuk menampilkan warna-warni kisah sukses para diaspora Indonesia di
Amerika Serikat dari berbagai sudut pandang, kalangan, dan zaman. Kita bisa
membaca etos hidup berdiaspora Emil Salim dan Hasjim Djalal pada tahun 1950an
dengan berbagai problematika teknologi transportasi dan komunikasi pada masa
itu. Dengan segala problematika dan romantikanya, Hasjim Djalal mengisahkan
tentang perjalanan karir dan intelektualnya hingga membuatnya menjadi ahli
hukum laut terkemuka di dunia.
Sementara pada halaman lain, kita juga menemukan globalisasi telah
merekayasa dunia sedemikian rupa hingga menyuguhkan tantangan berdiaspora yang
berbeda bagi Liquica Anggraini dengan perusahaan busana high-end
RADENRORO-nya, Shamsi Ali dengan interfaith dialogue-nya, Sandiaga Uno
dengan tekad wirausaha-nya, atau Nial Djuliarso dengan musiknya. Selain itu,
buku ini juga sangat kaya dengan sudut pandang. Kebanyakan dari penulis memulai
sudut pandangnya sebagai penerima beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Amerika,
tetapi kita juga menemukan sudut pandang yang berwarna, seperti Prof. Sumarsam
yang berkelana dengan gamelan, Sehat Sutarja yang berhasil membangun kerajaan
bisnis teknologi, hingga chef Bambang Sunarno yang melihat dunia dari
cita rasa masakan.
Dengan membaca buku ini, pembaca seperti diajak memasuki
perpustakaan diary tokoh-tokoh diaspora Indonesia. Beberapa dari tulisan
mereka sangat menyentuh dan mengajak para pembaca untuk merasakan emosi yang
sama penulisnya. Kita juga bisa melihat proses dan motivasi apa yang memicu
mereka untuk berhijrah dari comfort zone-nya ke negeri yang asing dan
penuh perjuangan. Nampak jelas bahwa kesuksesan para tokoh yang kita saksikan
hari ini tidak dihasilkan dalam satu malam, tetapi dibangun sejak lama, ditempa
dengan penuh kesabaran, dan diusahakan dengan tekad yang gigih.
Namun demikian, justru dengan menghimpun banyak kontributor
penulis, buku ini juga terselip kelemahan, yakni keterampilan menulis yang
tidak sama. Pada beberapa kontributor tergambar asyik dramatisasi proses
perjuangan mereka yang sangat keras dalam berdiaspora. Namun pada penulis lain,
proses diaspora mereka terasa hambar dan datar, padahal mungkin perjuangan yang
dirasakan justru lebih dahsyat.
Selain itu, hal lain yang menonjol dari buku ini terletak pada desain
sampul buku. Di antara 28 foto terbaru para kontributor, hanya dua foto lawas yang
mejeng di cover buku ini, yakni foto editor dan foto Hasjim Djalal
dengan memakai toga. Hal ini sengaja dilakukan mungkin untuk
"mengecoh" para pembaca dengan menunjukan kemiripan wajah bapak-beranak
ini.
![]() |
beberapa penulis buku saat acara peluncuran |
Penutup
Namun demiian, di atas segalanya, buku ini memiliki tujuan mulia,
yakni agar dapat menebarkan energi positif guna mendorong komunitas Indonesia
dimana pun berada untuk menjadi suatu kekuatan sosial dan ekonomi dan menjadi
bagian dari agent of chance. Harapannya buku tersebut dapat menyinari
suatu hipotesis bahwa siapapun orangnya dan dimanapun ia tinggal, tidak ada
yang menghalangi dirinya untuk maju dan sukses.
Buku Life Stories dengan gamblang memaparkan kepada para
pembaca bahwa kesempatan sekali dalam seumur hidup untuk berada di negeri orang
ternyata membuat para diaspora terbiasa untuk menerima segala tantangan, cobaan
dan godaan, justru ketika berada jauh dari tanah kelahiran. Setiap tokoh
diaspora mempunyai resep dan etos yang berbeda. Namun, apapun latar belakangnya
dan kapanpun zamannya, semuanya punya benang merah yang sama: mereka punya
mimpi dan tekad yang kuat untuk maju, mereka gigih mencapai tujuan, mereka siap
jatuh bangun dan tidak kecut menghadapi tantangan, mereka menangkap peluang,
mereka pernah gagal tetapi lihai berimprovisasi, dan mereka instrospektif dan berpikiran
terbuka (open minded).
Kongres Diaspora Indonesia dan buku Life Stories Resep
Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang ini setidaknya
meninggalkan tiga hal penting bagi kita. Pertama, diaspora Indonesia mulai terbit
kesadaran (self awareness) untuk berjejaring dan mengubah potensi
menjadi energi positif bagi kemajuan bangsa. Kedua, membuka mata pemerintah dan
bangsa Indonesia di Tanah Air untuk memberikan apresiasi terhadap keberadaan
diaspora Indonesia serta mengubah paradigma pendekatan legalistik yang kaku
untuk mendefinisikan "orang Indonesia". Ketiga, buku Life Stories juga
meningkatkan dorongan dan motivasi yang deras bagi para anak bangsa untuk
menguatkan tekad berdiaspora, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga
memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia kelak.
Akhirnya, buku Life Stories juga mengingatkan kita bahwa
setiap pemimpin Indonesia dulu dan hari ini bahkan pemimpin besar dunia
menyimpan semangat berdiaspora. Semangat berdiaspora bukan hanya memindahkan
raga kita dari satu negeri ke negeri yang lain, tetapi one way ticket
untuk sukses, etos kerja yang pantang menyerah, dan ambisi untuk berhasil. Kini
pertanyaan bagi kita, apakah kita mewarisi semangat itu?***